Pada presentasi kelompok ketujuh, pembahasannya mengenai tanggung jawab mendidik anak laki-laki.
Memiliki anak laki-laki berarti punya tanggung jawab lebih besar dibandingkan anak perempuan, betul gak sih??
Karena tanggung jawab lebih besar. Kita sedang mendidik;
✅ calon pemimpin,
✅ calon ayah
yang kelak akan bertanggung jawab pada keluarganya, pada istri dan anak-anaknya.
Proses menjadi seorang ayah bukanlah proses yang mudah. Banyak para ayah yang ‘gagal’ menjadi ayah bukan karena ia tidak mampu, tapi karena ia tidak cukup bekal, tidak cukup belajar. Alhasil setelah menjadi ayah, ia kikuk, bingung harus bagaimana memperlakukan wanitanya dan keluarganya dengan baik.
Padahal, peran ayah sangatlah penting dalam pengasuhan. Bahkan saat ini ada istilah negeri tanpa ayah, father hungry, fatherless country dan semacamnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin meningkatnya kesadaran pentingnya keterlibatan ayah dalam Pendidikan dan pengasuhan
anak dari sejak lahir sampai dengan aqil baligh.
Menurut psikolog asal AS, Edward Elmer Smith, fatherless adalah
ketiadaan peran ayah dalam perkembangan seorang anak, ketiadaan peran
ayah dapat berupa ketidakhadiran fisik maupun psikologis dalam
kehidupan anak.
Menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa Indonesia saat ini
termasuk negara nomor tiga didunia yang termasuk fatherless country.
(Sumber : wartaekonomi.co.id)
Berikut adalah beberapa fenomena yang dapat kita temui di lingkungan kita, bahkan mungkin terjadi pada orang terdekat kitaπ
Punya suami yang kasar? π± Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang "sangat tergantung" pada istrinya? Bingung membuat misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.
Di Indonesia dan banyak negara lain, ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah dan tidak dilibatkan dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Tanggung jawab pendidikan dan pengasuhan anak diserahkan kepada sosok ibu. Padahal, sosok ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, sehingga fitrah seksualitas anak dapat tumbuh indah paripurna. Khususnya dalam agama islam, ayah sangat berperan peting dalam proses pendidikan keluarga. Jika ibu adalah madrasah utamanya, ayah adalah kepala sekolahnya.
Ayah adalah
✅ pemimpin
✅ evaluator
✅ penentu visi dan misi keluarga
sedangkan…
ibu adalah
✅ eksekutor
Surat At Tahrim : 6 menunjukkan misi seorang kepala keluarga (ayah)untuk menjauhkan keluarganya dari api neraka
Dalam Al Qur’an sendiri terdapat 17 ayat yang berisi dialog pengasuhan dan 14 ayat terdiri dari dialog antara ayah dan anak.
Salah satu dampak apabila ayah tak terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak adalah terjadinya perilaku seksual pada anak yang cenderung menyimpang.
Mengapa??
Karena ayah tak hadir atau abai dalam menumbuhkan fitrah seksualitas anak.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati
Sumber : artikel oleh Ust. Harry Santosa,
Catatan seminar mengenai "Bahaya LGBT"
Mempersiapkan calon ayah http://sofianaindraswari.com
wartaekonomi.co.id
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Minggu, 14 Januari 2018
Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Hari Keenam
116 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Dimana kebanyakan pelakunya adalah orang terdekat anak seperti keluarga dekat, teman dan orang yang dikenal akrab oleh anak. Sekitar 87% pelaku dan korban sudah saling kenal. Biasanya pelaku ini sosoknya ramah, mau diajak bermain dan penuh perhatian
Apa sih yang mendasari kejahatan ini?
Krn kerusakan otak yang diakibatkan sudah terpapar ponografi hingga para pelaku tersebut tidak akan takut walaupun akan mendapat ancaman dikebiri.
Menurut riset YKBH, 90 dari 100 anak SD kelas 4, 5, 6 telah melihat pornografi secara sengaja ataupun tidak.
.
Mengapa anak bisa terbujuk?
Karena ayah dan ibunya jarang menyapa hati anaknya mendengar curhat. Ayah terlalu sibuk bekerja. Abai tepatnya.
Pelaku pedofilia ternyata pada masa anak-anaknya pernah juga mengalami kekerasan seksual.
Bayangkan apa jadinya jika semua korban pedofilia tersebut itu akhirnya menjadi pelaku? Jika tidak mendapatkan trauma healing.
Bagaimana solusinya?
1. Ajarkan anak tentang Fitrah Seksualitas sejak dini sesuai dengan tahapan usianya.
Berdasarkan hasil riset Mark B Kastleman ( Seorang ahli terapi adiksi pornografi di AS ) dan Dr. Donald Hilton Jr ( Ahli bedah otak dari University of Texas ) diketahui bahwa paparan pornografi yang intens mengakibatkan kerusakan otak yang ujungnya akan muncul kerusakan perilaku.
Tapi subhanallah, jauh sebelum penelitian itu ditemukan Allah SWT sudah memerintahkan kita untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluan
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah maha memgetahui apa yang mereka perbuat.” ( QS. An Nur : 30 ).
2. Perhatian dan kasih sayang yang cukup dari ayah ibu.
Bangun dan perkuat kembali bonding dan kelekatan antara orang tua dan anak.
3. Kemampuan berpikir kritis. Ajarkan anak cara melindungi tubuhnya dengan mengajarkan sentuhan baik, sentuhan bingung dan sentuhan buruk.
Ajarkan juga anak tentang pemakaian Handphone, positif dan negatifnya. Bahwa ia bisa menggenggam dunia dengan satu buku jarinya dengan handphone dan internet ditangannya. Sebelum anak diberikan handphone jelaskan terlebih dahulu segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Apa sih yang mendasari kejahatan ini?
Krn kerusakan otak yang diakibatkan sudah terpapar ponografi hingga para pelaku tersebut tidak akan takut walaupun akan mendapat ancaman dikebiri.
Menurut riset YKBH, 90 dari 100 anak SD kelas 4, 5, 6 telah melihat pornografi secara sengaja ataupun tidak.
.
Mengapa anak bisa terbujuk?
Karena ayah dan ibunya jarang menyapa hati anaknya mendengar curhat. Ayah terlalu sibuk bekerja. Abai tepatnya.
Pelaku pedofilia ternyata pada masa anak-anaknya pernah juga mengalami kekerasan seksual.
Bayangkan apa jadinya jika semua korban pedofilia tersebut itu akhirnya menjadi pelaku? Jika tidak mendapatkan trauma healing.
Bagaimana solusinya?
1. Ajarkan anak tentang Fitrah Seksualitas sejak dini sesuai dengan tahapan usianya.
Berdasarkan hasil riset Mark B Kastleman ( Seorang ahli terapi adiksi pornografi di AS ) dan Dr. Donald Hilton Jr ( Ahli bedah otak dari University of Texas ) diketahui bahwa paparan pornografi yang intens mengakibatkan kerusakan otak yang ujungnya akan muncul kerusakan perilaku.
Tapi subhanallah, jauh sebelum penelitian itu ditemukan Allah SWT sudah memerintahkan kita untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluan
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah maha memgetahui apa yang mereka perbuat.” ( QS. An Nur : 30 ).
2. Perhatian dan kasih sayang yang cukup dari ayah ibu.
Bangun dan perkuat kembali bonding dan kelekatan antara orang tua dan anak.
3. Kemampuan berpikir kritis. Ajarkan anak cara melindungi tubuhnya dengan mengajarkan sentuhan baik, sentuhan bingung dan sentuhan buruk.
Ajarkan juga anak tentang pemakaian Handphone, positif dan negatifnya. Bahwa ia bisa menggenggam dunia dengan satu buku jarinya dengan handphone dan internet ditangannya. Sebelum anak diberikan handphone jelaskan terlebih dahulu segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
Level 11,
Tantangan 10 Hari
Jumat, 12 Januari 2018
Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Hari Kelima
Poin penting dalam pemaparan dari kelompok 5 adalah terkait dengan pemaparan fitrah ayah bunda dan cara mengembangkan fitrah seksualitas di usia pra latih yang dibahas cukup rinci dalam presentasi kemarin.
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan perempuan atau laki-laki, tidak ada yang lainnya. Fitrah kelelakian bagi anak lelaki berbeda dengan fitrah keperempuanan pada anak perempuan. Fitrah kelelakian akan berkembang menjadi fitrah keayahan, sedangkan fitrah perempuan akan berkembang menjadi fitrah kebundaan.
Fitrah ayah dan fitrah bunda adalah karakter-karakter yang Allah lekatkan pada mereka, yang mempengaruhi perilaku dan pola asuh mereka terhadap anak-anak mereka
(https://www.google.co.id/amp/s/diaryparenting.wordpress.com/2017/06/02/materi-pokok2-fitrah-orangtua-keayahbundaan/amp/).
Fitrah ayah bunda
1. Fitrah sebagai manusia biasa yang punya kebutuhan, kelebihan, kelemahan, kegembiraan, keletihan, emosi, dan sebagainya
Dalam pendidikan anak perlu disadari bahwa : ayahbunda juga manusia, bukan robot parenting.Dalam menyikapi berbagai tantangan, kondisinya tidak selalu ideal, sehingga diperlukan toleransi.
2. Fitrah sebagai laki-laki dan perempuan yang berwujud dalam maskulinitas dan feminitas
Dalam pengasuhan dan pendidikannya ayah dan bunda harus berbasis pada karakternya sebagai laki-laki dan perempuan.
3. Fitrah sebagai orang tua bagi anak-anaknya, yang memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak
Mereka bukan hanya pengasuh dan pelayan, tapi juga pemimpin dan pengelola.
Berikut cara membangkitkan fitrah seksualitas di usia pra latih (0-2 tahun dan 3-6 tahun)
Kelekatan di usia 0-2 tahun dilakukan pada saat menyusui. Aktivitas menyusui yang tidak disambi nonton TV, bermain handphone. Anak ditatap, diajak ngobrol, dielus merupakan upaya meningkatkan kelekatan.
Bermain, bernyanyi dan bercerita (3B) merupakan cara untuk melekatkan anak dengan ayah dan bunda. Bermain peran (role play) dapat dilakukan ayah bunda.
Dengan 3B ayah bunda dapat melakukan :
1. Mengajarkan anak nama bagian tubuh. Seiring usia dapat dijelaskan fungsi dan cara menjaganya.
2. Sejak usia 9 bulan, ajarkan bahwa anak memiliki tubuh yang spesial. Ajarkan menggunakan nama yang tepat untuk bagian tubuh tanpa rasa tabu. Seperti mengatakan kemaluan laki-laki dengan sebutan burung.
3. Merawat rasa malunya ketika bagian tubuhnya terlihat oleh orang lain.
4. Untuk anak yang sudah bisa berkomunikasi, jelaskan lebih detail menggunakan bahasa ilmiah lalu tetap ikat dengan istilah kitab suci.
5. Ajari anak untuk mempercayai perasaannya.
6. Ajari anak untuk mampu berkata tidak, enggak mau, atau jangan begitu.
https://youtu.be/oNZZ1ED9vuEaaaaa
Anak sudah ditunjukan seksualitasnya. Seperti anak perempuan yang mulai menyukai menggunakan kerudung, begitu juga laki-laki. Mempergunakan pakaian yang menunjukan jika anak itu laki-laki.
Toileting, jika berada di pusat perbelanjaan, tidak jarang saya melihat anak laki-laki usia >3 tahun berada di kamar mandi perempuan, begitupun sebaliknya. Terlihat sepele, bahkan tidak jarang orang tua memberika toleransi akan hal ini. Tanpa sadar orang tua memberika peluang anak untuk melihat 'pemandangan' yang semestinya tidak dilihat.
Dengan terpenuhinya fitrah seksualitas, diharapkan kejahatan fedofilia dapat dihindari.
Sumber :
Buku Fitrah Based Education ver 2.5, Harry Santosa
https://m.facebook.com/yayasankitadanbuahhati/posts/1676768335683678
https://www.google.co.id/amp/s/diaryparenting.wordpress.com/2017/06/02/materi-pokok2-fitrah-orangtua-keayahbundaan/amp/
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan perempuan atau laki-laki, tidak ada yang lainnya. Fitrah kelelakian bagi anak lelaki berbeda dengan fitrah keperempuanan pada anak perempuan. Fitrah kelelakian akan berkembang menjadi fitrah keayahan, sedangkan fitrah perempuan akan berkembang menjadi fitrah kebundaan.
Fitrah ayah dan fitrah bunda adalah karakter-karakter yang Allah lekatkan pada mereka, yang mempengaruhi perilaku dan pola asuh mereka terhadap anak-anak mereka
(https://www.google.co.id/amp/s/diaryparenting.wordpress.com/2017/06/02/materi-pokok2-fitrah-orangtua-keayahbundaan/amp/).
Fitrah ayah bunda
1. Fitrah sebagai manusia biasa yang punya kebutuhan, kelebihan, kelemahan, kegembiraan, keletihan, emosi, dan sebagainya
Dalam pendidikan anak perlu disadari bahwa : ayahbunda juga manusia, bukan robot parenting.Dalam menyikapi berbagai tantangan, kondisinya tidak selalu ideal, sehingga diperlukan toleransi.
2. Fitrah sebagai laki-laki dan perempuan yang berwujud dalam maskulinitas dan feminitas
Dalam pengasuhan dan pendidikannya ayah dan bunda harus berbasis pada karakternya sebagai laki-laki dan perempuan.
3. Fitrah sebagai orang tua bagi anak-anaknya, yang memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak
Mereka bukan hanya pengasuh dan pelayan, tapi juga pemimpin dan pengelola.
Berikut cara membangkitkan fitrah seksualitas di usia pra latih (0-2 tahun dan 3-6 tahun)
Kelekatan di usia 0-2 tahun dilakukan pada saat menyusui. Aktivitas menyusui yang tidak disambi nonton TV, bermain handphone. Anak ditatap, diajak ngobrol, dielus merupakan upaya meningkatkan kelekatan.
Bermain, bernyanyi dan bercerita (3B) merupakan cara untuk melekatkan anak dengan ayah dan bunda. Bermain peran (role play) dapat dilakukan ayah bunda.
Dengan 3B ayah bunda dapat melakukan :
1. Mengajarkan anak nama bagian tubuh. Seiring usia dapat dijelaskan fungsi dan cara menjaganya.
2. Sejak usia 9 bulan, ajarkan bahwa anak memiliki tubuh yang spesial. Ajarkan menggunakan nama yang tepat untuk bagian tubuh tanpa rasa tabu. Seperti mengatakan kemaluan laki-laki dengan sebutan burung.
3. Merawat rasa malunya ketika bagian tubuhnya terlihat oleh orang lain.
4. Untuk anak yang sudah bisa berkomunikasi, jelaskan lebih detail menggunakan bahasa ilmiah lalu tetap ikat dengan istilah kitab suci.
5. Ajari anak untuk mempercayai perasaannya.
6. Ajari anak untuk mampu berkata tidak, enggak mau, atau jangan begitu.
https://youtu.be/oNZZ1ED9vuEaaaaa
Anak sudah ditunjukan seksualitasnya. Seperti anak perempuan yang mulai menyukai menggunakan kerudung, begitu juga laki-laki. Mempergunakan pakaian yang menunjukan jika anak itu laki-laki.
Toileting, jika berada di pusat perbelanjaan, tidak jarang saya melihat anak laki-laki usia >3 tahun berada di kamar mandi perempuan, begitupun sebaliknya. Terlihat sepele, bahkan tidak jarang orang tua memberika toleransi akan hal ini. Tanpa sadar orang tua memberika peluang anak untuk melihat 'pemandangan' yang semestinya tidak dilihat.
Dengan terpenuhinya fitrah seksualitas, diharapkan kejahatan fedofilia dapat dihindari.
Sumber :
Buku Fitrah Based Education ver 2.5, Harry Santosa
https://m.facebook.com/yayasankitadanbuahhati/posts/1676768335683678
https://www.google.co.id/amp/s/diaryparenting.wordpress.com/2017/06/02/materi-pokok2-fitrah-orangtua-keayahbundaan/amp/
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
Level 11,
Tantangan 10 Hari
Kamis, 11 Januari 2018
Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Hari Keempat
Presentasi terkait fitrah seksualitas dalam beberapa hari ini banyak diawali dengan kasus LGBT yang sedang booming saat ini. Hal ini lah yang makin besar membuat pentingnya fitrah seksulitas pada diri seseorang karena berperan besar terhadap sebuah peradaban. Peradaban itu dimulai dari manusia terkecil, individual, kemudian keluarga. Bila identitas jenis kelaminnya saja sudah bingung, tentu saja yang merupakan akar peradaban, akan membuat peradaban berada di ambang kehancuran.
Dalam pemaparan kelompok 4 lebih diperinci cara-cara meningkatkan fitrah seksualitas anak diantaranya adalah terkait pada
1. Penguatan konsep diri pada anak dengan cara seperti pada gambar di bawah ini
2. Mengetahui masing-masing peran ayah dan ibu
Salah satu cara membangkitkan fitrah seksualitas yaitu dengan cara melihat, merasakan, dan memahami secara langsung peran dari seorang ayah yang berjenis kelamin laki-laki, dan seorang ibu yang berjenis kelamin perempuan
3. Merujuk pada kurikulum fitrah yang pernah dijelaskan pada kelompok sebelumnya
Berikut adalah poin paling bagud dari presentasi kemarin yaitu 4 prinsip dasar PEDE bicara seks dengan anak
1. Yakin, orang tua adalah pendidik utama dan pertama seksualitas anak
Orangtua wajib menjadi pendidik utama dan pertama seksualitas anak karena ia adalah amanah yang Tuhan berikan dan kelak kita akan diminta pertanggungjawabannya.
Anak kita lahir dengan fitrah, amanah kita adalah menjaga fitrahnya terjaga hingga salah satu dari kita kembali pada Sang Pencipta.
Jika orangtua tidak menjadi pendidik utama dan pertama, orangtua akan perang dengan ‘entah siapa di luar sana’.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka, anak-anak yang lemah, yang mereka kuatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." – (QS.4:9)
2. Pendidikn seksualitas wajib berdasarkan landasan agama
Ilmu dunia adalah ilmu yang berkembang, apa yang benar saat ini dapat disempurnakan seiring perkembangannya.
Sedangkan ajaran agama adalah ilmu yang sudah dijamin kebenarannya sampai kapanpun.
"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)
3. Keluar dari tabu dan saru
Dulu, tidak banyak dari kita yang diajarkan oleh orangtua mengenai pendidikan seks. Namun kita tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Mengapa? Karena orangtua adalah satu-satunya sumber informasi bagi anak.
Anak-anak malu sekali untuk membicarakan hal itu dengan orang lain, apalagi dengan teman sebaya. Habis diolok-olok jadinya.
Sekarang, jika malu bertanya pada orang lain, anak akan bertanya pada internet. Apa yang ia dapat? SEGALANYA! Bahkan yang tidak boleh ia dapatkan.
Tinggalkan tabu, apalagi hal ini adalah hal yang besar dan begitu serius diatur dalam agama. Begitu besar kerusakan yang terjadi akibat permasalahan terkait hal ini. Ingatlah, Islam menjelaskan tentang seksualitas dengan gamblang.
Perbaiki komunikasi yang benar, baik, dan menyenangkan sehingga terbentuk kelekatan, kedekatan, dan kualitas komunikasi yang erat.
Dapatkan kepercayaan dan rasa nyaman anak kita, karena tidak mungkin kita bisa bicara tentang seksualitas (apalagi seks) jika anak merasa berjarak dengan kita.
“Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.” (Al Hajj : 24)
4. Terus tambah ilmu dan wawasan
Sebenarnya, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim. Jika untuk urusan menunaikan amanah, tentu menjadi lebih penting lagi.
AlQuran dan Sunnah menyebutkan perintah agar berilmu sebelum beramal. Pepatah arab mengatakan amal tanpa ilmu umpama orang buta tanpa tongkat.
Sediakan waktu khusus untuk menimba ilmu dari buku penunjang seperti ensexklopedia, artikel terpercaya di internet, atau menghadiri seminar dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan cara menyampaikan.
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim” (HR Bukhari)
Sumber: Yayasan Kita dan Buah Hati
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Dalam pemaparan kelompok 4 lebih diperinci cara-cara meningkatkan fitrah seksualitas anak diantaranya adalah terkait pada
1. Penguatan konsep diri pada anak dengan cara seperti pada gambar di bawah ini
2. Mengetahui masing-masing peran ayah dan ibu
Salah satu cara membangkitkan fitrah seksualitas yaitu dengan cara melihat, merasakan, dan memahami secara langsung peran dari seorang ayah yang berjenis kelamin laki-laki, dan seorang ibu yang berjenis kelamin perempuan
3. Merujuk pada kurikulum fitrah yang pernah dijelaskan pada kelompok sebelumnya
Berikut adalah poin paling bagud dari presentasi kemarin yaitu 4 prinsip dasar PEDE bicara seks dengan anak
1. Yakin, orang tua adalah pendidik utama dan pertama seksualitas anak
Orangtua wajib menjadi pendidik utama dan pertama seksualitas anak karena ia adalah amanah yang Tuhan berikan dan kelak kita akan diminta pertanggungjawabannya.
Anak kita lahir dengan fitrah, amanah kita adalah menjaga fitrahnya terjaga hingga salah satu dari kita kembali pada Sang Pencipta.
Jika orangtua tidak menjadi pendidik utama dan pertama, orangtua akan perang dengan ‘entah siapa di luar sana’.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka, anak-anak yang lemah, yang mereka kuatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." – (QS.4:9)
2. Pendidikn seksualitas wajib berdasarkan landasan agama
Ilmu dunia adalah ilmu yang berkembang, apa yang benar saat ini dapat disempurnakan seiring perkembangannya.
Sedangkan ajaran agama adalah ilmu yang sudah dijamin kebenarannya sampai kapanpun.
"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh dengan keduanya, Kitabullah dan Sunnah" (HR. Malik)
3. Keluar dari tabu dan saru
Dulu, tidak banyak dari kita yang diajarkan oleh orangtua mengenai pendidikan seks. Namun kita tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Mengapa? Karena orangtua adalah satu-satunya sumber informasi bagi anak.
Anak-anak malu sekali untuk membicarakan hal itu dengan orang lain, apalagi dengan teman sebaya. Habis diolok-olok jadinya.
Sekarang, jika malu bertanya pada orang lain, anak akan bertanya pada internet. Apa yang ia dapat? SEGALANYA! Bahkan yang tidak boleh ia dapatkan.
Tinggalkan tabu, apalagi hal ini adalah hal yang besar dan begitu serius diatur dalam agama. Begitu besar kerusakan yang terjadi akibat permasalahan terkait hal ini. Ingatlah, Islam menjelaskan tentang seksualitas dengan gamblang.
Perbaiki komunikasi yang benar, baik, dan menyenangkan sehingga terbentuk kelekatan, kedekatan, dan kualitas komunikasi yang erat.
Dapatkan kepercayaan dan rasa nyaman anak kita, karena tidak mungkin kita bisa bicara tentang seksualitas (apalagi seks) jika anak merasa berjarak dengan kita.
“Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.” (Al Hajj : 24)
4. Terus tambah ilmu dan wawasan
Sebenarnya, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim. Jika untuk urusan menunaikan amanah, tentu menjadi lebih penting lagi.
AlQuran dan Sunnah menyebutkan perintah agar berilmu sebelum beramal. Pepatah arab mengatakan amal tanpa ilmu umpama orang buta tanpa tongkat.
Sediakan waktu khusus untuk menimba ilmu dari buku penunjang seperti ensexklopedia, artikel terpercaya di internet, atau menghadiri seminar dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan cara menyampaikan.
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim” (HR Bukhari)
Sumber: Yayasan Kita dan Buah Hati
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
Level 11,
Tantangan 10 Hari
Rabu, 10 Januari 2018
Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Hari Ketiga
Kelompok 3 mengambil tema lebih spesifik lagi dalam pembahasannya yaitu membersamai anak di fase aqil baligh. Berbicara membersamai sudah barang tentu kita perlu ilmu. Ya ilmu yang bagaikan aplikasi di play store, kita harus senantiasa upgrade untuk bisa menyesuaikan dengan zamannya.
Isu kasus akhir-akhir ini tentang pernikahan dini, hamil di luar nikah, aborsi, kejahatan seksual membuat kita tak bisa menutup mata atau hanya sekedar merasa takut. Sebagai ibu yg profesional hendaknya kita menjadi bagian dari solusi bukan hanya sekedar penerima solusi
Secara bahasa aqil artinya adalah orang yang berakal, baligh artinya adalah sampai.
Sedangkan secara syara’, baligh artinya adalah seseorang yang telah sampai pada masa pemberian beban hukum syariat. Dan disebut juga dengan _taklif_.
Dengan adanya beban dan tuntutan itulah kemudian ia disebut sebagai mukallaf, yaitu seseorang yang telah diberikan beban syariat untuk mengamalkannya. Dari sinilah kemudian timbul istilah yang disebut sebagai _aqil baligh_ , yaitu *seseorang yang telah sampai pada masa baligh dan memiliki akal sehat*.
Fase pre aqil baligh (10-14) adalah fase kritis dimana ketika usia 10 tahun anak boleh dipukul ketika meninggalkan sholat tentu pukulan yg tidak melukai tetapi sebaiknya jangan sampai dipukul karena ada waktu yg cukup dari usia 7 tahun ketika perintah sholat mulai dikenalkan. "Boleh dipukul" adalah warning mengingat mereka akan menjalani fase pendidikan terberat sepanjang masa anak-anaknya.
Tahap ini anak laki-laki bisa didekatkan dengan ibu agar seorang laki-laki di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan kepada lawan jenis, maka di saat yg sama juga harus memahami secara empati langsung dr sosok ibunya, bagaimana lawan jenis harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan laki-laki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat.
Pun sebaliknya berlaku untuk anak perempuan kepada ayahnya.
Masalah yang sering terjadi di sekirar kita adalah
1. Tabu berdiskusi tentang reproduksi
Orang tua berperan aktif di rumah untuk mengenalkan anak tentang yang dulu dianggap tabu, bisa memberikan pondasi awal, dari rumah. Demi mencegah kejadan yang tidak kita inginkan.
2. Peran dan tugas ayah dan ibu dalam mengedukasi anak belum terbagi jelas
Solusinya adalah
- Buat program dan libatkan suami dalam penyusunannya
- Membagi tugas sesuai tupoksinya
- Bagi single parent, hadirkan sosok ayah ke anak misal kakek,paman,guru ngaji, dll
3. Orang tua bukan tempat curhat pertama
Solusinya adalah
- Bangun komunikasi dengan anak
- Perbaiki hubungan menjadi teman baik bagi anak-anak
Dan yang terakhir adalah cara mengedukasi anak dan keluarga :
1. Mulai dari rumah kita
Kita mulai dengan menerima dan meyakinkan kita bahwa ini adalah hal yang penting yang perlu kita informasikan ke anak
2. Mengajak teman sepermainan
Membuka topik pembicaraan dengan orang tua teman main anak kita dengan tujuan mereka pun melakukan hal yang sama terhadap anaknya. Dengan demikian diharapkan masyarakat akan teredukasi seiring berjalannya waktu
3. Libatkan sekolah
Buat komunikasi dengan sekolah untuk bisa membantu mengedukasi anak kita melalui mata pelajaran bimbingan konseling
Yang terakhir adalah gambar peran ayah dan ibu yang bisa saling support satu sama lain. Peran ayah dan ibu menentukan masa depan anak
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Isu kasus akhir-akhir ini tentang pernikahan dini, hamil di luar nikah, aborsi, kejahatan seksual membuat kita tak bisa menutup mata atau hanya sekedar merasa takut. Sebagai ibu yg profesional hendaknya kita menjadi bagian dari solusi bukan hanya sekedar penerima solusi
Secara bahasa aqil artinya adalah orang yang berakal, baligh artinya adalah sampai.
Sedangkan secara syara’, baligh artinya adalah seseorang yang telah sampai pada masa pemberian beban hukum syariat. Dan disebut juga dengan _taklif_.
Dengan adanya beban dan tuntutan itulah kemudian ia disebut sebagai mukallaf, yaitu seseorang yang telah diberikan beban syariat untuk mengamalkannya. Dari sinilah kemudian timbul istilah yang disebut sebagai _aqil baligh_ , yaitu *seseorang yang telah sampai pada masa baligh dan memiliki akal sehat*.
Fase pre aqil baligh (10-14) adalah fase kritis dimana ketika usia 10 tahun anak boleh dipukul ketika meninggalkan sholat tentu pukulan yg tidak melukai tetapi sebaiknya jangan sampai dipukul karena ada waktu yg cukup dari usia 7 tahun ketika perintah sholat mulai dikenalkan. "Boleh dipukul" adalah warning mengingat mereka akan menjalani fase pendidikan terberat sepanjang masa anak-anaknya.
Tahap ini anak laki-laki bisa didekatkan dengan ibu agar seorang laki-laki di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan kepada lawan jenis, maka di saat yg sama juga harus memahami secara empati langsung dr sosok ibunya, bagaimana lawan jenis harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan laki-laki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat.
Pun sebaliknya berlaku untuk anak perempuan kepada ayahnya.
Masalah yang sering terjadi di sekirar kita adalah
1. Tabu berdiskusi tentang reproduksi
Orang tua berperan aktif di rumah untuk mengenalkan anak tentang yang dulu dianggap tabu, bisa memberikan pondasi awal, dari rumah. Demi mencegah kejadan yang tidak kita inginkan.
2. Peran dan tugas ayah dan ibu dalam mengedukasi anak belum terbagi jelas
Solusinya adalah
- Buat program dan libatkan suami dalam penyusunannya
- Membagi tugas sesuai tupoksinya
- Bagi single parent, hadirkan sosok ayah ke anak misal kakek,paman,guru ngaji, dll
3. Orang tua bukan tempat curhat pertama
Solusinya adalah
- Bangun komunikasi dengan anak
- Perbaiki hubungan menjadi teman baik bagi anak-anak
Dan yang terakhir adalah cara mengedukasi anak dan keluarga :
1. Mulai dari rumah kita
Kita mulai dengan menerima dan meyakinkan kita bahwa ini adalah hal yang penting yang perlu kita informasikan ke anak
2. Mengajak teman sepermainan
Membuka topik pembicaraan dengan orang tua teman main anak kita dengan tujuan mereka pun melakukan hal yang sama terhadap anaknya. Dengan demikian diharapkan masyarakat akan teredukasi seiring berjalannya waktu
3. Libatkan sekolah
Buat komunikasi dengan sekolah untuk bisa membantu mengedukasi anak kita melalui mata pelajaran bimbingan konseling
Yang terakhir adalah gambar peran ayah dan ibu yang bisa saling support satu sama lain. Peran ayah dan ibu menentukan masa depan anak
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
Level 11,
Tantangan 10 Hari
Selasa, 09 Januari 2018
Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Hari Kedua
Presentasi untuk hari kedua ini diawali dengan data kasus perceraian di Indonesia, lebih dari 10 persen rumah tangga berakhir dengan perpisahan menyakitkan.
Penyebab perceraian banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. Selain itu juga, ada data kasus pelecehan seksual. Dalam enam tahun terakhir, ada lebih dari 1.500 kasus dilaporkan, di mana 227 merupakan kasus pelecehan seksual dan 128 kasus pelecehan sosial pada perempuan. Dan tidak ketinggalan juga, dipaparkan maraknya pornografi dan represifitas seks yang kerapkali melahirkan penyimpangan seks (LGBT dan perilaku seks menyimpang) dan akhirnya berperan sebagai promoter peradaban.
Salah satu penyebab kejadian-kejadian tersebut adalah fitrah seksualitas yg tidak berkembang, dimana yg paling berperan dalam perkembangan fitrah seksualitas anak adalah KITA. ORANG TUA.
Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas.
1. Membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya.
Indikatornya :
Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan.
Anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya sejak berusia tiga tahun.
Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki oleh anak. Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki.
2. Mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya.
Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya. Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak.
3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual.
Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai beraktivitas dengan teman-temannya di luar rumah, maka orangtua perlu mengajarkan tentang area pribadi tubuhnya. Area pribadi tubuh adalah bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan.
Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini.
Ada empat area pribadi yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut.
Dengan demikian anak akan waspada kepada pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan seksual padanya.
Adapun ide media pembelajaran untuk mendidik fitrah seksualitas anak dishare dalam presentasi tersebut. Salah satu diantaranya adalah kita bisa mengenalkan perbedaan laki2 dan perempuan dg games, flash card. Selain itu juga bisa mewarnai gambar laki-laki dan perempuan. Saat proses mewarnai, kita jelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi fisik dan peran.
Demikian hasil review presentasi hari kedua.
Bagi saya pribadi, melihat aneka kejadian yang dipaparkan di atas membuat saya semakin meyakini bahwa tugas orang tua tidak hanya membesarkan anak tapi juga mendidik anak, salah satu diantaranya mendidik fitrah seksualitasnya sejak dini. Dan sebagai ibu rumah tangga, tidak ada kata "jenuh", "bosen", apalagi "nganggur" karena tugas mendidik anak banyaaakkk sekali, ada di depan mata, dan harus segera "dicicil".
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Penyebab perceraian banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. Selain itu juga, ada data kasus pelecehan seksual. Dalam enam tahun terakhir, ada lebih dari 1.500 kasus dilaporkan, di mana 227 merupakan kasus pelecehan seksual dan 128 kasus pelecehan sosial pada perempuan. Dan tidak ketinggalan juga, dipaparkan maraknya pornografi dan represifitas seks yang kerapkali melahirkan penyimpangan seks (LGBT dan perilaku seks menyimpang) dan akhirnya berperan sebagai promoter peradaban.
Salah satu penyebab kejadian-kejadian tersebut adalah fitrah seksualitas yg tidak berkembang, dimana yg paling berperan dalam perkembangan fitrah seksualitas anak adalah KITA. ORANG TUA.
Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas.
1. Membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya.
Indikatornya :
Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan.
Anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya sejak berusia tiga tahun.
Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki oleh anak. Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki.
2. Mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya.
Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya. Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak.
3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual.
Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai beraktivitas dengan teman-temannya di luar rumah, maka orangtua perlu mengajarkan tentang area pribadi tubuhnya. Area pribadi tubuh adalah bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan.
Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini.
Ada empat area pribadi yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut.
Dengan demikian anak akan waspada kepada pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan seksual padanya.
Adapun ide media pembelajaran untuk mendidik fitrah seksualitas anak dishare dalam presentasi tersebut. Salah satu diantaranya adalah kita bisa mengenalkan perbedaan laki2 dan perempuan dg games, flash card. Selain itu juga bisa mewarnai gambar laki-laki dan perempuan. Saat proses mewarnai, kita jelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi fisik dan peran.
Demikian hasil review presentasi hari kedua.
Bagi saya pribadi, melihat aneka kejadian yang dipaparkan di atas membuat saya semakin meyakini bahwa tugas orang tua tidak hanya membesarkan anak tapi juga mendidik anak, salah satu diantaranya mendidik fitrah seksualitasnya sejak dini. Dan sebagai ibu rumah tangga, tidak ada kata "jenuh", "bosen", apalagi "nganggur" karena tugas mendidik anak banyaaakkk sekali, ada di depan mata, dan harus segera "dicicil".
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
Level 11,
Tantangan 10 Hari
Senin, 08 Januari 2018
Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Hari Pertama
Tugas untuk level 11 ini sangat jauh berbeda dengan tugas di level-level sebelumnya. Di level ini kami diminta membentuk kelompok dan melakukan presentasi per kelompok dengan tema yang telah ditentukan yaitu fitrah seksualitas.
Saat pembagian kelompok, sengaja saya menulis nama di akhir-akhir berharap jadi kelompok terakhir aja jadi presentasinya terakhir eh ternyata kesepakatannya hanya dibentuk 10 kelompok alhasil saya masuk kelompok 1 yang artinya harus presentasi pertama kali π
Dipasangkan dengan ibu-ibu sholcan yaitu Mbak Angie & Mbk Bai yang sangat cerdas dan kreatif, Masya Allah jadinya penyusunan materi cukup singkat alias cepet euy π dan karena kami sepakat diskusi di jam malam saat para bocah udah pada tidur biar gak ada iklan π selama beberapa hari tidur jam 11 demi apa? Demi tugas IIP yang tentunya ilmu ini untuk kami sendiri sebagai bekal dalam mendidik amanah dari Sang Maha Kuasa.
Dannnn ini lah hasil diskusi kamiπ
Fakta mengejutkan Dinas Kesehatan mencatat, ada 39 titik perkumpulan LGBT yang tersebar di Kota Bogor. Dan lokasi favorit terbanyak adalah taman sempur dan terminal laladon,, WOWWW π³π¨π£
Tugas kita sebagai orang tua jaman sekarang cukup besar tantangannya.
Tantangan external yang berkaitan dengan gender yang lagi marak saat ini yaitu
a. Lingkungan sekitar tempat tinggal/pergaulan yang tidak sesuai dengan visi misi pengasuhan, bahkan parahnya terpapar LGBT
b. Propaganda dari berbagai oknum dan media yang kian gencar menyebarkan LGBT+ dengan dalih HAM
Selain itu juga tantangan dari internal keluarga inti yaitu
a. Ayah/ibu atau suami/istri harus bersikap, berpikir, bertindak dan berperan sesuai dengan gendernya.
b. Setiap anak harus diasuh, dididik dan dibesarkan sesuai dengan fitrah, tahapan perkembangan dan gendernya.
c. Setiap keluarga harus kokoh dan dibentengi oleh norma agama dan aturan yang berlaku sehingga terhindar dari penyimpangan gender.
Jadi apa yang harus kita lakukan?
Mari kita didik fitrah seksualitas anak-anak kita sedini mungkin
Pertanyaannya, apakah fitrah seksualitas?
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa, bersikap sesuai dengan gendernya.
Fitrah seksualitas keperempuanan adalah bagaimana seorang perempuan itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang perempuan.
Fitrah seksualitas kelelakian adalah bagaimana seseorang lelaki itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang lelaki.
Dalam hal ini, tentunya pengembangan fitrah seksualitas mengacu pada pedoman agama yang dianut oleh individu atau sebuah keluarga.
Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir hingga Aqil baligh. Penumbuhan fitrah seksualitas anak banyak tergantung pada kehadiran peran dan kedekatan ayah dan bunda.
Seberapa pentingkah fitrah seksualitas?
1. Allah subhanahu wa ta'ala berkuasa menciptakan gender laki-laki dan perempuan, dimana masing-masing memiliki perbedaan fisik, sifat, karakter, pola pikir yang semuanya memiliki hikmah untuk menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi ini.
2. Setiap orang tua yang diamanahi anak bertanggungjawab dalam hal menumbuhkembangkan fitrah seksualitas anak mereka sesuai dengan tuntunan perintah Allah agar terhindar dari perbuatan yang dilarang agama.
3. Anak memiliki hak untuk tumbuh menjadi manusia seutuhnya (sesuai dengan fitrah gendernya) agar dapat menjalankan peran khalifah/misi hidupnya secara optimal.
4. Jika fitrah seksualitas tidak berkembang dengan baik, dikhawatirkan akan menjadi masalah yang harus "dibayar" ketika dewasa kelak. Berdasarkan hasil riset, anak-anak yang tidak mendapatkan peran orangtua (karena perang, bencana alam, perceraian, dll) akan mengalami gangguan kejiwaan, masalah sosial dan seksualitas saat dewasa. LGBT adalah perilaku yang diakibatkan salah asuh (psycho genic) dan salah budaya atau lifestyle (socio genic).
Mari kita sama-sama berjuang memperkokoh pondasi keluarga dengan mendidik anak sesuai dengan tuntunan agama
Kuatkan kelekatan ayah dan ibu untuk menumbuhkan fitrah seksualitas gendernya.
Selain itu juga, yuk kita peduli terhadap lingkungan, edukasilah sesuai kemampuan. Seperti yang Kak Seto bilang "mendidik seorang anak perlu orang sekampung"
The bond that links a true family is not one of blood but of respect and joy in each other's life" (Richard Bach)
Sumber referensi
Santosa, Harry. Fitrah Based Education Version 2.5. Yayasan Mutiara Timur. Desember 30, 2016.
Berikut adalah media edukasi yang kami susun : http://bit.ly/2Ffr7Rl (video kedua di postingan ini)
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Saat pembagian kelompok, sengaja saya menulis nama di akhir-akhir berharap jadi kelompok terakhir aja jadi presentasinya terakhir eh ternyata kesepakatannya hanya dibentuk 10 kelompok alhasil saya masuk kelompok 1 yang artinya harus presentasi pertama kali π
Dipasangkan dengan ibu-ibu sholcan yaitu Mbak Angie & Mbk Bai yang sangat cerdas dan kreatif, Masya Allah jadinya penyusunan materi cukup singkat alias cepet euy π dan karena kami sepakat diskusi di jam malam saat para bocah udah pada tidur biar gak ada iklan π selama beberapa hari tidur jam 11 demi apa? Demi tugas IIP yang tentunya ilmu ini untuk kami sendiri sebagai bekal dalam mendidik amanah dari Sang Maha Kuasa.
Dannnn ini lah hasil diskusi kamiπ
Fakta mengejutkan Dinas Kesehatan mencatat, ada 39 titik perkumpulan LGBT yang tersebar di Kota Bogor. Dan lokasi favorit terbanyak adalah taman sempur dan terminal laladon,, WOWWW π³π¨π£
Tugas kita sebagai orang tua jaman sekarang cukup besar tantangannya.
Tantangan external yang berkaitan dengan gender yang lagi marak saat ini yaitu
a. Lingkungan sekitar tempat tinggal/pergaulan yang tidak sesuai dengan visi misi pengasuhan, bahkan parahnya terpapar LGBT
b. Propaganda dari berbagai oknum dan media yang kian gencar menyebarkan LGBT+ dengan dalih HAM
Selain itu juga tantangan dari internal keluarga inti yaitu
a. Ayah/ibu atau suami/istri harus bersikap, berpikir, bertindak dan berperan sesuai dengan gendernya.
b. Setiap anak harus diasuh, dididik dan dibesarkan sesuai dengan fitrah, tahapan perkembangan dan gendernya.
c. Setiap keluarga harus kokoh dan dibentengi oleh norma agama dan aturan yang berlaku sehingga terhindar dari penyimpangan gender.
Jadi apa yang harus kita lakukan?
Mari kita didik fitrah seksualitas anak-anak kita sedini mungkin
Pertanyaannya, apakah fitrah seksualitas?
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa, bersikap sesuai dengan gendernya.
Fitrah seksualitas keperempuanan adalah bagaimana seorang perempuan itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang perempuan.
Fitrah seksualitas kelelakian adalah bagaimana seseorang lelaki itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang lelaki.
Dalam hal ini, tentunya pengembangan fitrah seksualitas mengacu pada pedoman agama yang dianut oleh individu atau sebuah keluarga.
Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir hingga Aqil baligh. Penumbuhan fitrah seksualitas anak banyak tergantung pada kehadiran peran dan kedekatan ayah dan bunda.
Seberapa pentingkah fitrah seksualitas?
1. Allah subhanahu wa ta'ala berkuasa menciptakan gender laki-laki dan perempuan, dimana masing-masing memiliki perbedaan fisik, sifat, karakter, pola pikir yang semuanya memiliki hikmah untuk menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi ini.
2. Setiap orang tua yang diamanahi anak bertanggungjawab dalam hal menumbuhkembangkan fitrah seksualitas anak mereka sesuai dengan tuntunan perintah Allah agar terhindar dari perbuatan yang dilarang agama.
3. Anak memiliki hak untuk tumbuh menjadi manusia seutuhnya (sesuai dengan fitrah gendernya) agar dapat menjalankan peran khalifah/misi hidupnya secara optimal.
4. Jika fitrah seksualitas tidak berkembang dengan baik, dikhawatirkan akan menjadi masalah yang harus "dibayar" ketika dewasa kelak. Berdasarkan hasil riset, anak-anak yang tidak mendapatkan peran orangtua (karena perang, bencana alam, perceraian, dll) akan mengalami gangguan kejiwaan, masalah sosial dan seksualitas saat dewasa. LGBT adalah perilaku yang diakibatkan salah asuh (psycho genic) dan salah budaya atau lifestyle (socio genic).
Mari kita sama-sama berjuang memperkokoh pondasi keluarga dengan mendidik anak sesuai dengan tuntunan agama
Kuatkan kelekatan ayah dan ibu untuk menumbuhkan fitrah seksualitas gendernya.
Selain itu juga, yuk kita peduli terhadap lingkungan, edukasilah sesuai kemampuan. Seperti yang Kak Seto bilang "mendidik seorang anak perlu orang sekampung"
The bond that links a true family is not one of blood but of respect and joy in each other's life" (Richard Bach)
Sumber referensi
Santosa, Harry. Fitrah Based Education Version 2.5. Yayasan Mutiara Timur. Desember 30, 2016.
Berikut adalah media edukasi yang kami susun : http://bit.ly/2Ffr7Rl (video kedua di postingan ini)
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
Level 11,
Tantangan 10 Hari
Langganan:
Komentar (Atom)















