Kelompok 3 mengambil tema lebih spesifik lagi dalam pembahasannya yaitu membersamai anak di fase aqil baligh. Berbicara membersamai sudah barang tentu kita perlu ilmu. Ya ilmu yang bagaikan aplikasi di play store, kita harus senantiasa upgrade untuk bisa menyesuaikan dengan zamannya.
Isu kasus akhir-akhir ini tentang pernikahan dini, hamil di luar nikah, aborsi, kejahatan seksual membuat kita tak bisa menutup mata atau hanya sekedar merasa takut. Sebagai ibu yg profesional hendaknya kita menjadi bagian dari solusi bukan hanya sekedar penerima solusi
Secara bahasa aqil artinya adalah orang yang berakal, baligh artinya adalah sampai.
Sedangkan secara syara’, baligh artinya adalah seseorang yang telah sampai pada masa pemberian beban hukum syariat. Dan disebut juga dengan _taklif_.
Dengan adanya beban dan tuntutan itulah kemudian ia disebut sebagai mukallaf, yaitu seseorang yang telah diberikan beban syariat untuk mengamalkannya. Dari sinilah kemudian timbul istilah yang disebut sebagai _aqil baligh_ , yaitu *seseorang yang telah sampai pada masa baligh dan memiliki akal sehat*.
Fase pre aqil baligh (10-14) adalah fase kritis dimana ketika usia 10 tahun anak boleh dipukul ketika meninggalkan sholat tentu pukulan yg tidak melukai tetapi sebaiknya jangan sampai dipukul karena ada waktu yg cukup dari usia 7 tahun ketika perintah sholat mulai dikenalkan. "Boleh dipukul" adalah warning mengingat mereka akan menjalani fase pendidikan terberat sepanjang masa anak-anaknya.
Tahap ini anak laki-laki bisa didekatkan dengan ibu agar seorang laki-laki di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan kepada lawan jenis, maka di saat yg sama juga harus memahami secara empati langsung dr sosok ibunya, bagaimana lawan jenis harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan laki-laki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat.
Pun sebaliknya berlaku untuk anak perempuan kepada ayahnya.
Masalah yang sering terjadi di sekirar kita adalah
1. Tabu berdiskusi tentang reproduksi
Orang tua berperan aktif di rumah untuk mengenalkan anak tentang yang dulu dianggap tabu, bisa memberikan pondasi awal, dari rumah. Demi mencegah kejadan yang tidak kita inginkan.
2. Peran dan tugas ayah dan ibu dalam mengedukasi anak belum terbagi jelas
Solusinya adalah
- Buat program dan libatkan suami dalam penyusunannya
- Membagi tugas sesuai tupoksinya
- Bagi single parent, hadirkan sosok ayah ke anak misal kakek,paman,guru ngaji, dll
3. Orang tua bukan tempat curhat pertama
Solusinya adalah
- Bangun komunikasi dengan anak
- Perbaiki hubungan menjadi teman baik bagi anak-anak
Dan yang terakhir adalah cara mengedukasi anak dan keluarga :
1. Mulai dari rumah kita
Kita mulai dengan menerima dan meyakinkan kita bahwa ini adalah hal yang penting yang perlu kita informasikan ke anak
2. Mengajak teman sepermainan
Membuka topik pembicaraan dengan orang tua teman main anak kita dengan tujuan mereka pun melakukan hal yang sama terhadap anaknya. Dengan demikian diharapkan masyarakat akan teredukasi seiring berjalannya waktu
3. Libatkan sekolah
Buat komunikasi dengan sekolah untuk bisa membantu mengedukasi anak kita melalui mata pelajaran bimbingan konseling
Yang terakhir adalah gambar peran ayah dan ibu yang bisa saling support satu sama lain. Peran ayah dan ibu menentukan masa depan anak
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Rabu, 10 Januari 2018
Selasa, 09 Januari 2018
Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Hari Kedua
Presentasi untuk hari kedua ini diawali dengan data kasus perceraian di Indonesia, lebih dari 10 persen rumah tangga berakhir dengan perpisahan menyakitkan.
Penyebab perceraian banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. Selain itu juga, ada data kasus pelecehan seksual. Dalam enam tahun terakhir, ada lebih dari 1.500 kasus dilaporkan, di mana 227 merupakan kasus pelecehan seksual dan 128 kasus pelecehan sosial pada perempuan. Dan tidak ketinggalan juga, dipaparkan maraknya pornografi dan represifitas seks yang kerapkali melahirkan penyimpangan seks (LGBT dan perilaku seks menyimpang) dan akhirnya berperan sebagai promoter peradaban.
Salah satu penyebab kejadian-kejadian tersebut adalah fitrah seksualitas yg tidak berkembang, dimana yg paling berperan dalam perkembangan fitrah seksualitas anak adalah KITA. ORANG TUA.
Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas.
1. Membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya.
Indikatornya :
Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan.
Anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya sejak berusia tiga tahun.
Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki oleh anak. Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki.
2. Mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya.
Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya. Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak.
3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual.
Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai beraktivitas dengan teman-temannya di luar rumah, maka orangtua perlu mengajarkan tentang area pribadi tubuhnya. Area pribadi tubuh adalah bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan.
Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini.
Ada empat area pribadi yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut.
Dengan demikian anak akan waspada kepada pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan seksual padanya.
Adapun ide media pembelajaran untuk mendidik fitrah seksualitas anak dishare dalam presentasi tersebut. Salah satu diantaranya adalah kita bisa mengenalkan perbedaan laki2 dan perempuan dg games, flash card. Selain itu juga bisa mewarnai gambar laki-laki dan perempuan. Saat proses mewarnai, kita jelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi fisik dan peran.
Demikian hasil review presentasi hari kedua.
Bagi saya pribadi, melihat aneka kejadian yang dipaparkan di atas membuat saya semakin meyakini bahwa tugas orang tua tidak hanya membesarkan anak tapi juga mendidik anak, salah satu diantaranya mendidik fitrah seksualitasnya sejak dini. Dan sebagai ibu rumah tangga, tidak ada kata "jenuh", "bosen", apalagi "nganggur" karena tugas mendidik anak banyaaakkk sekali, ada di depan mata, dan harus segera "dicicil".
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Penyebab perceraian banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. Selain itu juga, ada data kasus pelecehan seksual. Dalam enam tahun terakhir, ada lebih dari 1.500 kasus dilaporkan, di mana 227 merupakan kasus pelecehan seksual dan 128 kasus pelecehan sosial pada perempuan. Dan tidak ketinggalan juga, dipaparkan maraknya pornografi dan represifitas seks yang kerapkali melahirkan penyimpangan seks (LGBT dan perilaku seks menyimpang) dan akhirnya berperan sebagai promoter peradaban.
Salah satu penyebab kejadian-kejadian tersebut adalah fitrah seksualitas yg tidak berkembang, dimana yg paling berperan dalam perkembangan fitrah seksualitas anak adalah KITA. ORANG TUA.
Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas.
1. Membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya.
Indikatornya :
Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan.
Anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya sejak berusia tiga tahun.
Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki oleh anak. Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki.
2. Mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya.
Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya. Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak.
3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual.
Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai beraktivitas dengan teman-temannya di luar rumah, maka orangtua perlu mengajarkan tentang area pribadi tubuhnya. Area pribadi tubuh adalah bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan.
Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini.
Ada empat area pribadi yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut.
Dengan demikian anak akan waspada kepada pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan seksual padanya.
Adapun ide media pembelajaran untuk mendidik fitrah seksualitas anak dishare dalam presentasi tersebut. Salah satu diantaranya adalah kita bisa mengenalkan perbedaan laki2 dan perempuan dg games, flash card. Selain itu juga bisa mewarnai gambar laki-laki dan perempuan. Saat proses mewarnai, kita jelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi fisik dan peran.
Demikian hasil review presentasi hari kedua.
Bagi saya pribadi, melihat aneka kejadian yang dipaparkan di atas membuat saya semakin meyakini bahwa tugas orang tua tidak hanya membesarkan anak tapi juga mendidik anak, salah satu diantaranya mendidik fitrah seksualitasnya sejak dini. Dan sebagai ibu rumah tangga, tidak ada kata "jenuh", "bosen", apalagi "nganggur" karena tugas mendidik anak banyaaakkk sekali, ada di depan mata, dan harus segera "dicicil".
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
Level 11,
Tantangan 10 Hari
Senin, 08 Januari 2018
Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Hari Pertama
Tugas untuk level 11 ini sangat jauh berbeda dengan tugas di level-level sebelumnya. Di level ini kami diminta membentuk kelompok dan melakukan presentasi per kelompok dengan tema yang telah ditentukan yaitu fitrah seksualitas.
Saat pembagian kelompok, sengaja saya menulis nama di akhir-akhir berharap jadi kelompok terakhir aja jadi presentasinya terakhir eh ternyata kesepakatannya hanya dibentuk 10 kelompok alhasil saya masuk kelompok 1 yang artinya harus presentasi pertama kali 😂
Dipasangkan dengan ibu-ibu sholcan yaitu Mbak Angie & Mbk Bai yang sangat cerdas dan kreatif, Masya Allah jadinya penyusunan materi cukup singkat alias cepet euy 😍 dan karena kami sepakat diskusi di jam malam saat para bocah udah pada tidur biar gak ada iklan 😅 selama beberapa hari tidur jam 11 demi apa? Demi tugas IIP yang tentunya ilmu ini untuk kami sendiri sebagai bekal dalam mendidik amanah dari Sang Maha Kuasa.
Dannnn ini lah hasil diskusi kami😍
Fakta mengejutkan Dinas Kesehatan mencatat, ada 39 titik perkumpulan LGBT yang tersebar di Kota Bogor. Dan lokasi favorit terbanyak adalah taman sempur dan terminal laladon,, WOWWW 😳😨😣
Tugas kita sebagai orang tua jaman sekarang cukup besar tantangannya.
Tantangan external yang berkaitan dengan gender yang lagi marak saat ini yaitu
a. Lingkungan sekitar tempat tinggal/pergaulan yang tidak sesuai dengan visi misi pengasuhan, bahkan parahnya terpapar LGBT
b. Propaganda dari berbagai oknum dan media yang kian gencar menyebarkan LGBT+ dengan dalih HAM
Selain itu juga tantangan dari internal keluarga inti yaitu
a. Ayah/ibu atau suami/istri harus bersikap, berpikir, bertindak dan berperan sesuai dengan gendernya.
b. Setiap anak harus diasuh, dididik dan dibesarkan sesuai dengan fitrah, tahapan perkembangan dan gendernya.
c. Setiap keluarga harus kokoh dan dibentengi oleh norma agama dan aturan yang berlaku sehingga terhindar dari penyimpangan gender.
Jadi apa yang harus kita lakukan?
Mari kita didik fitrah seksualitas anak-anak kita sedini mungkin
Pertanyaannya, apakah fitrah seksualitas?
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa, bersikap sesuai dengan gendernya.
Fitrah seksualitas keperempuanan adalah bagaimana seorang perempuan itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang perempuan.
Fitrah seksualitas kelelakian adalah bagaimana seseorang lelaki itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang lelaki.
Dalam hal ini, tentunya pengembangan fitrah seksualitas mengacu pada pedoman agama yang dianut oleh individu atau sebuah keluarga.
Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir hingga Aqil baligh. Penumbuhan fitrah seksualitas anak banyak tergantung pada kehadiran peran dan kedekatan ayah dan bunda.
Seberapa pentingkah fitrah seksualitas?
1. Allah subhanahu wa ta'ala berkuasa menciptakan gender laki-laki dan perempuan, dimana masing-masing memiliki perbedaan fisik, sifat, karakter, pola pikir yang semuanya memiliki hikmah untuk menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi ini.
2. Setiap orang tua yang diamanahi anak bertanggungjawab dalam hal menumbuhkembangkan fitrah seksualitas anak mereka sesuai dengan tuntunan perintah Allah agar terhindar dari perbuatan yang dilarang agama.
3. Anak memiliki hak untuk tumbuh menjadi manusia seutuhnya (sesuai dengan fitrah gendernya) agar dapat menjalankan peran khalifah/misi hidupnya secara optimal.
4. Jika fitrah seksualitas tidak berkembang dengan baik, dikhawatirkan akan menjadi masalah yang harus "dibayar" ketika dewasa kelak. Berdasarkan hasil riset, anak-anak yang tidak mendapatkan peran orangtua (karena perang, bencana alam, perceraian, dll) akan mengalami gangguan kejiwaan, masalah sosial dan seksualitas saat dewasa. LGBT adalah perilaku yang diakibatkan salah asuh (psycho genic) dan salah budaya atau lifestyle (socio genic).
Mari kita sama-sama berjuang memperkokoh pondasi keluarga dengan mendidik anak sesuai dengan tuntunan agama
Kuatkan kelekatan ayah dan ibu untuk menumbuhkan fitrah seksualitas gendernya.
Selain itu juga, yuk kita peduli terhadap lingkungan, edukasilah sesuai kemampuan. Seperti yang Kak Seto bilang "mendidik seorang anak perlu orang sekampung"
The bond that links a true family is not one of blood but of respect and joy in each other's life" (Richard Bach)
Sumber referensi
Santosa, Harry. Fitrah Based Education Version 2.5. Yayasan Mutiara Timur. Desember 30, 2016.
Berikut adalah media edukasi yang kami susun : http://bit.ly/2Ffr7Rl (video kedua di postingan ini)
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Saat pembagian kelompok, sengaja saya menulis nama di akhir-akhir berharap jadi kelompok terakhir aja jadi presentasinya terakhir eh ternyata kesepakatannya hanya dibentuk 10 kelompok alhasil saya masuk kelompok 1 yang artinya harus presentasi pertama kali 😂
Dipasangkan dengan ibu-ibu sholcan yaitu Mbak Angie & Mbk Bai yang sangat cerdas dan kreatif, Masya Allah jadinya penyusunan materi cukup singkat alias cepet euy 😍 dan karena kami sepakat diskusi di jam malam saat para bocah udah pada tidur biar gak ada iklan 😅 selama beberapa hari tidur jam 11 demi apa? Demi tugas IIP yang tentunya ilmu ini untuk kami sendiri sebagai bekal dalam mendidik amanah dari Sang Maha Kuasa.
Dannnn ini lah hasil diskusi kami😍
Fakta mengejutkan Dinas Kesehatan mencatat, ada 39 titik perkumpulan LGBT yang tersebar di Kota Bogor. Dan lokasi favorit terbanyak adalah taman sempur dan terminal laladon,, WOWWW 😳😨😣
Tugas kita sebagai orang tua jaman sekarang cukup besar tantangannya.
Tantangan external yang berkaitan dengan gender yang lagi marak saat ini yaitu
a. Lingkungan sekitar tempat tinggal/pergaulan yang tidak sesuai dengan visi misi pengasuhan, bahkan parahnya terpapar LGBT
b. Propaganda dari berbagai oknum dan media yang kian gencar menyebarkan LGBT+ dengan dalih HAM
Selain itu juga tantangan dari internal keluarga inti yaitu
a. Ayah/ibu atau suami/istri harus bersikap, berpikir, bertindak dan berperan sesuai dengan gendernya.
b. Setiap anak harus diasuh, dididik dan dibesarkan sesuai dengan fitrah, tahapan perkembangan dan gendernya.
c. Setiap keluarga harus kokoh dan dibentengi oleh norma agama dan aturan yang berlaku sehingga terhindar dari penyimpangan gender.
Jadi apa yang harus kita lakukan?
Mari kita didik fitrah seksualitas anak-anak kita sedini mungkin
Pertanyaannya, apakah fitrah seksualitas?
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa, bersikap sesuai dengan gendernya.
Fitrah seksualitas keperempuanan adalah bagaimana seorang perempuan itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang perempuan.
Fitrah seksualitas kelelakian adalah bagaimana seseorang lelaki itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang lelaki.
Dalam hal ini, tentunya pengembangan fitrah seksualitas mengacu pada pedoman agama yang dianut oleh individu atau sebuah keluarga.
Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir hingga Aqil baligh. Penumbuhan fitrah seksualitas anak banyak tergantung pada kehadiran peran dan kedekatan ayah dan bunda.
Seberapa pentingkah fitrah seksualitas?
1. Allah subhanahu wa ta'ala berkuasa menciptakan gender laki-laki dan perempuan, dimana masing-masing memiliki perbedaan fisik, sifat, karakter, pola pikir yang semuanya memiliki hikmah untuk menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi ini.
2. Setiap orang tua yang diamanahi anak bertanggungjawab dalam hal menumbuhkembangkan fitrah seksualitas anak mereka sesuai dengan tuntunan perintah Allah agar terhindar dari perbuatan yang dilarang agama.
3. Anak memiliki hak untuk tumbuh menjadi manusia seutuhnya (sesuai dengan fitrah gendernya) agar dapat menjalankan peran khalifah/misi hidupnya secara optimal.
4. Jika fitrah seksualitas tidak berkembang dengan baik, dikhawatirkan akan menjadi masalah yang harus "dibayar" ketika dewasa kelak. Berdasarkan hasil riset, anak-anak yang tidak mendapatkan peran orangtua (karena perang, bencana alam, perceraian, dll) akan mengalami gangguan kejiwaan, masalah sosial dan seksualitas saat dewasa. LGBT adalah perilaku yang diakibatkan salah asuh (psycho genic) dan salah budaya atau lifestyle (socio genic).
Mari kita sama-sama berjuang memperkokoh pondasi keluarga dengan mendidik anak sesuai dengan tuntunan agama
Kuatkan kelekatan ayah dan ibu untuk menumbuhkan fitrah seksualitas gendernya.
Selain itu juga, yuk kita peduli terhadap lingkungan, edukasilah sesuai kemampuan. Seperti yang Kak Seto bilang "mendidik seorang anak perlu orang sekampung"
The bond that links a true family is not one of blood but of respect and joy in each other's life" (Richard Bach)
Sumber referensi
Santosa, Harry. Fitrah Based Education Version 2.5. Yayasan Mutiara Timur. Desember 30, 2016.
Berikut adalah media edukasi yang kami susun : http://bit.ly/2Ffr7Rl (video kedua di postingan ini)
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
Level 11,
Tantangan 10 Hari
Sabtu, 16 Desember 2017
Membangun Karakter Anak melalui Dongeng - Hari Kesebelas
Karena berencana membuat maryam dekat dan percaya dengan kami, kami sering mengajak maryam jalan2, membelikan buku bacaan, makan bareng diluar. Sebelumnya kami sudah mengajarkan maryam tentang ekspresi perasaan senang, sedih, takut, marah, dll. Pada satu waktu, saat kami jalan2 ke tempat wisata dibogor, begitu sampai di tujuan, maryam sangat exited. Lalu saya bertanya tentang perasaan maryam, dia menjawab dia senang karena diajak jalan2, senang karena melihat hal baru dan senang melakukan hal baru. Saya mengatakan ke maryam semua yang ada disini itu ciptaan Allah Swt. Ayah bunda dan maryam juga ciptaan Allah. Saya mengajak maryam bersyukur dan berterima kasih, karena dianugerahi kesempatan untuk jalan2,melihat, dan melakukan aktifitas baru sehingga membuat kita semua menjadi senang.
Terima kasih ya Allah.
Terima kasih ya Allah.
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
level 10,
Tantangan 10 Hari
Membangun Karakter Anak melalui Dongeng - Hari Kesepuluh
Setiap maryam selesai dengan mainannya, maryam selalu meninggalkan mainannya di sembarang tempat. Hal ini mengakibatkan mainanmya sulit ditemukan bahkan hilang. Selain itu rumah juga berantakan. Setelah itu saya coba beri pengertian berulang ulang dengan sabar agar maryam mau membereskan mainannya sendiri agar mainan tidak hilang dan menjaga kebersihan serta kerapian rumah. Setelah beberapa minggu kemudian, alhamdulillah, setelah selesai mainan, maryam merapikan mainannya sendiri lalu mengembalikan ketempat dimana mainan tersebut disimpan.
Hikmah: saya mengajarkan maryam tentang kerapian/kebersihan dan tanggung jawab.
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Hikmah: saya mengajarkan maryam tentang kerapian/kebersihan dan tanggung jawab.
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
level 10,
Tantangan 10 Hari
Membangun Karakter Anak melalui Dongeng - Hari Kesembilan
Saat di rumah berdua dengan maryam, kami melakukan aktifitas bermain. Pada saat itu maryam sedang bermain puzzle. Tiba pada satu titik, maryam berteriak karena mengalami kesulitan. Saya memberikan motivasi untuk terus mencoba dan menyampaikan cerita tentang kesabaran, ketekunan, dan pantang menyerah. Alhamdulillah, akhirnya maryam berhasil menyelesaikan puzzle tersebut.
Saya berusaha mengajarkan kesabaran, ketekunan dan pantang menyerah terhadap masalah yang dihadapi.
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Saya berusaha mengajarkan kesabaran, ketekunan dan pantang menyerah terhadap masalah yang dihadapi.
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
level 10,
Tantangan 10 Hari
Membangun Karakter Anak melalui Dongeng - Hari Kedelapan
Hari minggu pagi, kami pergi jalan jalan ke lapangan tempat dimana banyak orang melakukan olahraga. Disana terdapat wahana panjat tebing. Maryam ingin bermain wahana tersebut. Saat mencoba wahana tersebut (sambil saya awasi), maryam hanya berani naik setinggi 30 cm. Lalu saya memberikan semangat dan berkata kepada maryam untuk mencoba lebih tinggi lagi, dan ayah akan berjaga dibawah untuk menangkap maryam. maryam mencoba naik kembali. Setelah beberapa kali percobaan memanjat, dipercobaan terakhir maryam berani untuk memanjat hingga setinggi kurang lebih 2 meter.
Hikmah: saya berusaha menanamkan rasa saling percaya dan keberanian kepada maryam.
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Label:
bunda sayang,
Ibu Profesional,
level 10,
Tantangan 10 Hari
Langganan:
Postingan (Atom)













